Bukan
hanyalah sayang dan cinta yang kita perlukan, seperti aku yang duduk dikelas 2 Madrasah
Aliyah Negeri yang cukup pengap dengan gunjingan teman sekelasku. Tidak tahu
mengapa, apa salahku? Mengapa mereka tidak setuju aku selalu bisa mendapatkan
peringkat 1? Mengapa mereka tidak suka aku dekat, bahkan hanya bertanya
soal-soal pelajaran kepada guruku? Banyak hal yang perlu aku pelajari dari
mereka, mengapa aku begitu berbeda?
“Nukha..
apakah kamu tahu berita hari ini?” Yah, itu kata temanku yang sesungguhnya,
nasibnya sama denganku. Penuh bully.
“Tidak,
Sabilla. Ada apa lagi?” Aku pura-pura bertanya walau aku sudah tahu maksudnya.
“Kamu
harus berhati-hati, jangan suka melihat ke belakang ketika kamu berbicara atau
bereaksi sekalipun dan ketika kamu mendapatkan nilai terbaik lagi, kamu akan
terluka.” Kata Sabilla serius.
“Allah
tahu semua, mana yang baik mana yang buruk. Aku tidak perlu takut ketika aku
tidak bersalah, aku tidak peduli seberapa terlukanya hatiku nanti. Mereka bukan
temanku.”
Sekarang memang paling baik adalah aku
tidak menganggap mereka sebagai teman, aku memang selalu pura-pura tidak peka
terhadap keadaan yang ada. Hanya saja, mengapa mereka tidak berfikir apa mereka
akan sukses ketika mereka selalu iri terhadap orang lain? Ya Allah, ini kah
hidup?
“Nukha,
tolong bagikan nilai ujian ini kepada
teman-temanmu.” Kata Bapak Ayyas.
“Baik
pak.” Aku pun membagikan hasil ujiannya. Saat berada didaerah gang yang kontra
denganku, aku hanya pura-pura tidak tahu mereka membicarakan apa.
“Siapa
yang mendapatkan nilai baik?”
“Siapa?
Bukankah sudah jelas!” Sambil melirik diriku yang sedang membagikan hasil ujian
tersebut.
Dan mereka akan menganggap lebih remeh
diriku lagi, ujian kali ini aku peringkat 6. Ada beberapa faktor yang harus aku
lakukan yang lebih penting dari sekedar nilai, begitu penting adikku. Adikku
yang juga satu sekolah denganku baru saja meninggal dunia. Terpukul, tentu!
Tetapi, Aku akan merasa baik-baik saja.
“Apa
yang akan kamu lakukan sekarang, Nukha?”
“Ini
memang salahku, aku tidak dapat fokus menerima pelajaran. Biarkan aku tenang
sejenak tanpa ada kata mereka dipikiranku. Toh aku tidak peringkat 1 mereka
juga tidak naik nilainya.”
“Baiklah,
waktumu hanya 3 hari untuk mengikhlaskan adikmu. Adikmu sudah tenang, itulah
yang dikatakan di dalam hadist Rasulullah SAW.”
“Terimakasih,
Sabilla.”
******
Pagi itu, aku mulai membuka lembaran
baru. Tidak tahu menapa aku merasa bersemangat kali ini, tapi yang aku takutkan
mereka. Salah satu dari mereka, Marya tokoh jahat dalam hidupku ini baru saja
kecelakaan dan mengalami pendarahan diotak kanannya. Katanya berkat pendarahan
itu, ia bisa membaca pikiran orang lain. Aku hanya tersenyum, apakah manusia
benar-benar bisa seperti itu?
Ujian akhir semester pun telah lalu,
dapat dipastikan aku yang peringkat 1. Bangga, pasti! Bahagia, tidak mungkin
aku bisa bahagia! Aku lebih takut melihat mereka disetiap nafasku, aku
menginginkan cepat naik kelas dan meminta untuk pindah kelas. Seakan-akan
hatiku mau meluap karena sudah tidak tahan dengan segala bullian batin oleh mereka.
“Nukha..”
Baru pertama kali, Marya memanggilku begitu lembutnya.
“ Iya,
Marya.” Kataku singkat, aku mencoba untuk tersenyum padanya.
“Jangan
takut, Nukha. Ternyata kamu sudah tahu kelakuanku selama ini, mengapa kamu
tidak mengungkapkan sama halnya denganku?”
Aku
terkejut sekali, bagaimana ia bisa membaca pikiranku?
“Apa?
Aku, aku, tidak mau menyamakan diriku seperti dirimu, Marya. Maaf aku mau
pergi.”
“Yah,
pergilah! Pergi dan bawalah nyawamu dengan ketakutan. Pergi temui Tuhanmu yang
selalu kamu sebut-sebut memiliki nama sampai 99 itu yang bisa membuatmu selalu
menjadi peringkat 1 dan disayangi guru-guru!”
“Kamu
gila Marya!” Kata Sabilla dan menarik tanganku untuk pergi keluar.
Aku sangat takut melihat wajah Marya,
mengapa Marya begitu benci kepadaku? Hidupku penuh dengan kata “mengapa”. Hingga
tiba saatnya, aku terbaring kaku dikerumuni banyak orang mengaji untuk
mendoakanku. Ada apa ini? Mengapa diriku terbalut kain putih? Astaghfirullah, aku
menghadap Sang Illahi Rabbi! Aku melihat kedua orangtuaku yang mengaji sambil
menangis, aku melihat Sabilla memojokkan diri diruangan tempatku terbaring,
lalu aku melihat para peran antagonis disini menjadi lembut dan menyayangiku,
ya itulah Marya dan teman-temannya.
Setelah aku lihat dari memori otakku,
aku meninggal karena terjatuh dari lantai 4 gedung sekolahku. Aku tahu ini
bukan kesengajaanku, ini suatu musibah untukku yang berasal dari Marya. Karena
dia mendorongku, mungkin Allah telah menetapkan takdirku untuk meninggal dengan
cara sekeji ini.
Aku baik-baik saja, disini aku sudah
bersama adikku yang aku sayangi. Kami bermain bersama, dan yang pasti aku sudah
tidak merasakan pedihnya menjadi siswa terpandai. Aku bahagia disini.
-2016

Komentar
Posting Komentar