Langsung ke konten utama

Secarik Cinta untuk Nodesta


Kala itu aku masih SMA
pena itu menari-nari pada secarik kertas ivory
garis demi garis kulewati
bertuliskan naskah pertunjukan teater dramatik

cerita tersebut menggambarkan suatu keputusan
dimana keputusan terjadi karena keterpaksaan
keputusan itu membuat sang wanita kehilangan
kehilangan waktu,
kehilangan kasih sayang seorang kekasih yang meninggalkan
bukaan..
bukan sebab selingkuh yang menjadi taruhan
namun angan-anganlah yang menjadi pedoman

pergi..
pergi..
hilaang..
tanpa kabar..
berawal dari sakit hati si wanita menanti keterpurukan
menunggu,
hal yang tak mudah untuk dilupakan
hal yang tak ingin pula dilakukan

dihiburlah wanita cantik itu oleh para sahabatnya
dengan bunga warna-warni serta bau ciri khasnya
buang..
semua dibuang olehnya, tak terkecuali luka yang amat dalam merasuk nyawa

sampai akhirnya..
sang pujangga berjalan.. berjalan.. berjalan..
dipeluknya dari arah belakang
derai air mata si wanita jatuh terkecuali cinta yang masih melekat didada
menarilah mereka dengan alunan rasa "Kangen -Dewa19"

dan kau tahu wahai pemeran utama?
tiga tahun setelahnya
itu bukan lagi suatu cerita drama teater
namun sang penulislah pemeran utama
Annisa ialah penulis, dan Hafidz ialah Nodesta

-14 Februari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Why ?

B ukan hanyalah sayang dan cinta yang kita perlukan, seperti aku yang duduk dikelas 2 Madrasah Aliyah Negeri yang cukup pengap dengan gunjingan teman sekelasku. Tidak tahu mengapa, apa salahku? Mengapa mereka tidak setuju aku selalu bisa mendapatkan peringkat 1? Mengapa mereka tidak suka aku dekat, bahkan hanya bertanya soal-soal pelajaran kepada guruku? Banyak hal yang perlu aku pelajari dari mereka, mengapa aku begitu berbeda? “Nukha.. apakah kamu tahu berita hari ini?” Yah, itu kata temanku yang sesungguhnya, nasibnya sama denganku. Penuh bully. “Tidak, Sabilla. Ada apa lagi?” Aku pura-pura bertanya walau aku sudah tahu maksudnya. “Kamu harus berhati-hati, jangan suka melihat ke belakang ketika kamu berbicara atau bereaksi sekalipun dan ketika kamu mendapatkan nilai terbaik lagi, kamu akan terluka.” Kata Sabilla serius. “Allah tahu semua, mana yang baik mana yang buruk. Aku tidak perlu takut ketika aku tidak bersalah, aku tidak peduli seberapa terlukanya hatiku nanti. M...