B ukan hanyalah sayang dan cinta yang kita perlukan, seperti aku yang duduk dikelas 2 Madrasah Aliyah Negeri yang cukup pengap dengan gunjingan teman sekelasku. Tidak tahu mengapa, apa salahku? Mengapa mereka tidak setuju aku selalu bisa mendapatkan peringkat 1? Mengapa mereka tidak suka aku dekat, bahkan hanya bertanya soal-soal pelajaran kepada guruku? Banyak hal yang perlu aku pelajari dari mereka, mengapa aku begitu berbeda? “Nukha.. apakah kamu tahu berita hari ini?” Yah, itu kata temanku yang sesungguhnya, nasibnya sama denganku. Penuh bully. “Tidak, Sabilla. Ada apa lagi?” Aku pura-pura bertanya walau aku sudah tahu maksudnya. “Kamu harus berhati-hati, jangan suka melihat ke belakang ketika kamu berbicara atau bereaksi sekalipun dan ketika kamu mendapatkan nilai terbaik lagi, kamu akan terluka.” Kata Sabilla serius. “Allah tahu semua, mana yang baik mana yang buruk. Aku tidak perlu takut ketika aku tidak bersalah, aku tidak peduli seberapa terlukanya hatiku nanti. M...
K ala itu aku masih SMA pena itu menari-nari pada secarik kertas ivory garis demi garis kulewati bertuliskan naskah pertunjukan teater dramatik cerita tersebut menggambarkan suatu keputusan dimana keputusan terjadi karena keterpaksaan keputusan itu membuat sang wanita kehilangan kehilangan waktu, kehilangan kasih sayang seorang kekasih yang meninggalkan bukaan.. bukan sebab selingkuh yang menjadi taruhan namun angan-anganlah yang menjadi pedoman pergi.. pergi.. hilaang.. tanpa kabar.. berawal dari sakit hati si wanita menanti keterpurukan menunggu, hal yang tak mudah untuk dilupakan hal yang tak ingin pula dilakukan dihiburlah wanita cantik itu oleh para sahabatnya dengan bunga warna-warni serta bau ciri khasnya buang.. semua dibuang olehnya, tak terkecuali luka yang amat dalam merasuk nyawa sampai akhirnya.. sang pujangga berjalan.. berjalan.. berjalan.. dipel...